Resume Kajian

Kaidah Kaidah Fiqih 

​📚 Kaidah kaidah Fiqih

Ust Badrusalam, Lc

Sabtu, 28 Muharram 1438 H 

Masjid Islamic Centre Bekasi
📂 Materi 

📝Kaidah Ushul fiqih : membahas tentang macam macam dalil,  syarat,ijma, qiyas dst. 

📝Kaidah fiqih : kaidah yang bersifat partial yang ditunjukkan dalil dalil yang lebih terperinci. 

Materi dauroh kaidah ushul fiqih di islamic centre Bekasi yang diambil dari kitab syarah Mandzumah ushul fiqih syaikh Utsaimin.
🌷Kaidah pertama:

Agama ini datang untuk mendatangkan mashlahat dan menolak mudlarat.

📝Maslahat : segala sesuatu yang bermanfaat untuk kehidupan manusia baik dunia ataupun akhirat. Maka yang yang sifatnya manfaat itu diperintahkan dalam islam dan yang mudlarat itu dilarang. 

📌Karena semua perintah Allah pasti mashlahatnya murni atau lebih besar dari mudlaratnya seperti sholat, zakat, puasa, haji,  berbakti kepada orang tua dan sebagainya.

📌Seseorang ketika tidak memahami syariat maka akan memikirkan maslahat diri sendiri yang dinilai dengan akal dan perasaannya. 

📌Dalam islam,untuk menimbang maslahat itu tidak boleh dinilai dari pemikiran maslahat pribadi. Karena ilmu manusia itu sangat sedikit sehingga tak pantas manusia mengkritik syariat Allah. 

📖Q.S :Boleh jadi kamu tidak menyukai perkara tapi ia baik buatmu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu dan itu tidak baik buat mu. Allah tahu dan engkau tidak tahu. 

📌Maka,  dalam menjalankan sesuatu harus dipikir pertama kali adalah syariat nya apa. 

📓Ulama : orang yang faqih itu  bukan sebatas mengetahui ini maslahat ini mudharat tapi mengetahui derajat maslahat dan derajat mudharat. 

📝Mudharat : segala sesuatu yang berbahaya bagi manusia baik di dunia dan akhirat. 

👉Dan ini tidak lepas dari membahayakan satu atau dari lima hal : 

▪Agama

▪Jiwa

▪Harta

▪Akal

▪Keturunan 

📌Kadang Allah melarang sesuatu yang kita tidak tahu mudharat nya apa jika kita berfikir cepat. 

▪Contoh : 

1.Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang musik. 

2.Allah melarang isbal

⚠Kewajiban kita adalah mengimani nya.  Semua perkara yang dilarang pasti mudharat dan yang diperintahkan pasti manfaat. 
📌Demikian juga larangan Allah, pasti semuanya mengandung mudlarat yang murni atau lebih besar dari mashlahatnya seperti syirik, bid’ah, sihir, riba, zina, judi dan sebagainya.

Maka semua yang mashlahatnya murni atau lebih besar adalah perkara yang diperintahkan.

dan semua yang mudlaratnya murni atau lebih besar adalah perkara yang dilarang. 

📌Apabila mashlahat dan mudlaratnya sama besar, maka lebih baik ditinggalkan agar tidak jatuh kepada yang dilarang.

📌Namun, terkadang sebagian orang memandang suatu mashlahat padahal sebetulnya tidak. seperti perayaan maulid Nabi, perayaan isra dan mi’raj dan sebagainya.karena tanpa perayaan tersebut mencintai Nabi dapat dilakukan dengan yang sesuai syariatnya seperti menuntut ilmu syariat dan mengamalkannya. 

di zaman khulafa rasyidin islam semakin jaya tanpa perayaan tersebut, bahkan kecintaan mereka kepada Nabi melebihi orang orang yang merayakan maulid.

itu menunjukkan bahwa perayaan maulid tidak memberi mashlahat apapun untuk agama. Dan tidak memberi mudlarat apapun bila ditinggalkan.

justeru perayaan tersebut memberi mudlarat terhadap agama dari sisi menambah nambah syariat yang tidak pernah diizinkan oleh Allah Azza wajalla.
🌷Kaidah kedua:

Syariat islam adalah syariat yang mudah. 
Allah berfirman: 

يريد الله بكم اليسر

Allah menginginkan kemudahan untuk kamu. (QS 2:185)

Allah juga berfirman:

وما جعل عليكم في الدين من حرج

Dan tidaklah Allah menjadikan dalam agama ini sesuatu yang menyusahkanmu. (Al Hajj:78).
📌Bila kita perhatikan, perintah perintah Allah adalah mudah dan tidak sulit dilakukan.

📝sholat misalnya, Allah hanya mewajibkan 5 waktu saja, di waktu waktu yang mudah. Allah tidak mewajibkan sholat ditengah malam. Dan hanya 1/24 jam dari setiap hari. 

📝Zakat pun tidak diwajibkan pada semua harta, tetapi hanya harta tertentu saja yang ditunjukkan oleh dalil dan qiyas. Itupun dengan nishob yang tidak memberatkan.

📝Allah mewajibkan sholat ramadhan hanya sekali dalam setahun

📌Dan bila suatu amal itu berat, maka Allah memberinya pahala yang amat besar.

⚠Namun, sebab utama beratnya ibadah di hati adalah akibat dosa dan maksiat. Sehingga seorang hamba menganggap berat syariat yang mudah ini, karena ia lebih tunduk kepada hawa nafsu dan syahwatnya dari pada tunduk kepada penciptanya.

📖Q.S :Sesungguhnya jiwa itu memerintahkan kepada keburukan 

📖HR : Dunia itu penjara bagi orang mukmin dan syurga bagi orang kafir

👉Karena orang kafir itu apapun dia lakukan sementara orang mukmin ada syariat,  ada larangan dan perintah. 

🌷Kaidah ketiga:

Kesulitan mendatangkan kemudahan.

📌Telah disebutkan bahwa agama ini mudah, namun ketika ada kesulitan, maka lebih diberi kemudahan oleh syariat.

📝Kesulitan yang dimaksud adalah kesulitan yang melebihi kebiasaan dan bukan hanya sebuah kekhawatiran belaka.

👉Contoh kaidah ini diantaranya:

▪Seperti orang yang sakit takut berwudlu dengan air, namun sebetulnya tidak memberi bahaya apa apa. kecuali bila diduga kuat akan menambah sakitnya, maka diperbolehkan bertayammum.

▪Ketika sedang safar disyariatkan untuk qashar

▪Apabila tidak bisa sholat dengan berdiri maka duduk, jika tidak bisa duduk boleh berbaring 

⚠Kesulitan seperti ini mendatangkan kemudahan. Tentunya kemudahan pun harus sesuai syariat dan bukan disesuaikan selera dan shahwat manusia.

👉Pemahaman yang salah dari kaidah ini contoh :

▪seperti seorang yang tidak bisa meninggalkan kerja di bank karena takut tidak dapat rezeki. Ini salah dari Aqidah dia karena kurang keyakinan kepada Allah atas rezeki Allah.  Ia ketakutan dan menuruti hawa nafsunya saja. 

▪Seorang yang butuh beli motor untuk mencari uang tapi ia hanya bisa beli dengan sistem riba(leasing). Padahal dia masih bisa mencari rezeki dengan cara yang lainnya,  yang halal, maka wajib ikut alternatif yang halal. 

⚠Terkadang orang paham Akidah tapi mempraktekannya sesuai dengan selera,  hawa nafsu dan keinginan. 
🌷kaidah keempat:

Dalam perintah, lakukanlah sesuai kemampuan. Dalam larangan, wajib ditinggalkan seluruhnya.

⚠Meninggalkan itu lebih mudah daripada melakukan. Yang buat susah itu hawa nafsu. 

📌Kaidah ini berdasarkan hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
ما نهيتكم عنه فاجتنبوه وما أمرتكم به فأتوا منه ماستطعتم

Apa apa yang aku larang tinggalkanlah. dan apapa yang aku perintahkan, lakukanlah semampu kalian.

📝Perintah adalah beban, dan tidak setiap orang mampu melaksanakannya. Maka syariat yang indah ini melihat kemampuan hamba dalam melaksanakannya.

Sedangkan larangan adalah meletakkan beban, semua orang mampu melakukannya. Maka ia harus ditinggalkan sama sekali.

kecuali bila pada keadaan darurat atau sangat dibutuhkan, sementara mashlahatnya lebih besar dari mudlaratnya.

📌seperti bangkai boleh dimakan disaat keadaan terpaksa. dusta diizinkan untuk mendamaikan dua muslim yang bertengkar dan sebagainya. Namun tentunya tetap memperhatikan batasan batasan yang disebitkan oleh para ulama.
🌷Kaidah kelima:

Orang yang tidak tahu dimaafkan, kecuali bila ketidak tahuannya akibat tidak mau menuntut ilmu.
👉Kaidah ini ditunjukkan oleh banyak ayat alquran diantaranya firman Allah Ta’ala:
وما كان الله ليضل قوما بعد إذ هداهم حتى يبين لهم ما يتقون

Tidaklah Allah menyesatkan suatu kaum setelah datang kepada mereka petunjuk sampai Dia menjelaskan kepada mereka perkara perkara yang harus dijauhi. (At Taubah:115).
📖HR :Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah melihat orang yang sholatnya tidak thuma’ninah, lalu beliau menyuruhnya mengulanginya. kemudian beliau mengajarkan tata cara sholat yang benar dan tidak menyuruhnya untuk mengulanginya kembali.
📖HR : Dalam sebuah riwayat seorang yang jahil berpesan kepada anaknya untuk ketika wafat di bakar satunya dibuang sebagian dipisah satu di barat dan timur.  Kemudian di hari kiamat Allah berfirman dan bertanya mengapa ia melakukan nya dia bilang karena takut kepada Allah maka Allah memaafkan ketidak tahuannya. 
📖Muadz bin jabal pernah pulang dari Syam dan datang datang sujud kepada Rasulullah karena ia melihat orang-orang sujud kepada pendeta mereka di yahudi di Syams. Kalau saja aku perintahkan orang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku perintahkan istri sujud kepada suaminya tapi dalam islam sujud itu hanya kepada Allah. Ini karena Muadz tidak tahu maka Rasulullah memaafkan

📖Rasulullah berencana untuk menyerang mekah. Hathib mengirim surat melalui wanita ke mekah. Dan Allah memberi tahu Rasulullah dan dikejar perempuan itu. Dan habab pun di panggil dan Umar hendak memanggalnya tapi Rasulullah larang dan menanyakan alasan  Hathib melakukan itu. Dia bilang karena dia berhutang budi dengan seseorang di mekah,  dan tidak ada maksud untuk memgkhinati Rasulullah hanya untuk membalas budi dan tidak tahu kalau itu tidak boleh maka Rasulullah maafkan atas ketidak tahuannya. 
📌Adapun bila kebodohannya itu karena ia sengaja tidak mau menuntut ilmu dan meremehkannya maka pendapat para ulama menunjukkan ia tidak dimaafkan dan tetap diancam dengan api neraka. 

wallahu a’lam.

📝Orang-orang yang tidak tahu memang dimaafkan  dalm syariat tapi jika ketidaktauannya itu karena tidak mau menuntut ilmu. Tidak menuntut ilmu saja sudah dosa.

📖Q.S Mulk 8 9  :

…… ۖ كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ

….. penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: “Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan

قَالُوا بَلَىٰ قَدْ جَاءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ كَبِيرٍ

Mereka menjawab: “Benar ada”, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) dan kami katakan: “Allah tidak menurunkan sesuatupun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar

📓Ibn qudamah: beda antara orang yang tinggal ditempat yang banyak ulama dan pedalaman. Yang ditempat banyak ulama sedikit udzurnya sedangkan di pedalaman udzurnya semakin luas. 
🌷Kaidah keenam:

Sesuatu yang haram boleh dilakukan bila darurat. Dan yang makruh boleh bila ada hajat.

📝Darurat : apabila kita meninggalkan maka bahaya. Jika hajat kita butuh tapi jika kita tinggalkan tidak bahaya

📌Disebut darurat bila, membahayakan agama, atau jiwa, atau harta, atau keturunan, atau akal. Perbedaannya dengan hajat, bahwa hajat bila ditinggalkan tidak berbahaya, namun kita membutuhkannya.

📝Contohnya bila kita berada di tempat yang sangat dingin, kita harus memakai jaket, bila tidak kita binasa. ini adalah darurat.

setelah memakai jaket, masih terasa dingin dan membutuhkan jaket yang kedua. ini adalah hajat.

👉Perkara yang haram, boleh dilakukan bila keadaan darurat dengan syarat:

1. Benar benar dalam keadaan terpaksa dan tidak ada alternatif yang lain.

2. Darurat tersebut hilang dengan melakukan perbuatan yang haram tersebut. Bila tidak hilang maka tetap tidak boleh. 

📌Bila salah satu syarat ini tak terpenuhi, maka tetap haram hukumnya seperti mengobati sihir dengan sihir, menghilangkan haus dengan arak dan sebagainya.

📌Adapun yang makruh boleh dilakukan bila ada hajat, seperti menengok dalam sholat boleh bila dibutuhkan.

📖HR Abu dawud Ahmad : waktu itu Rasulullah bersabda siapa yang mau berjaga dibukit sana dan ia berjaga. Ketika subuh masuk Rasulullah bertanya apakah fulan tersebut pulang. Dan ketika sholat Rasulullah menengok ke arah bukit. 

⚠Yang makruh itu tidak boleh dilakukan  jika tidak dibutuhkan 

📌Bergerak dalam sholat boleh jika dibutuhkan seperti Rasulullah bergerak ketika sholat dan beliau shallallahu alaihi wa sallam sholat dengan menggendong umamah. 
🌷Kaidah ketujuh:

Perkara yang diharamkan ada dua keadaan:

1. Diharamkan dzatnya seperti judi, arak, riba, zina dan sebagainya.

2. Diharamkan karena menjerumuskan kepada yang haram. seperti melihat wanita yang bukan mahram diharamkan karena mendekati Zina. memakai sutera diharamkan karena mendekati tasyabbuh dengan wanita. dan sebagainya. Semua yang menjerumuskan kepada maksiat diharamkan dalam islam. 
▪Perkara yang diharamkan dzatnya dibolehkan ketika darurat saja.

📝Contohnya :

1. Dalam masalah riba,  tapi makan riba jika sifatnya darurat. 

📌Akan tetapi jika misal kita dipaksa zina kalau tidak mati. Atau kita di paksa membunuh orang kalau tidak kita dibunuh. Ini tidak boleh karena mudharat nya sama. 
▪Sedangkan perkara yang diharamkan karena menjerumuskan, dibolehkan disaat ada hajat.

📝Contohnya :

1. Memakai sutera bagi lelaki boleh untuk keperluan pengobatan gatal. 2. Melihat wanita boleh untuk tujuan menikahinya. dan sebagainya. 

3. Membeli kurma basah dengan yang kering tidak boleh tapi jika memang membutuhkan boleh. 
🌷Kaidah kedelapan:

Larangan apabila berhubungan dengan dzat ibadah atau syaratnya maka ibadah tersebut batal tidak sah.Tetapi bila tidak berhubungan dengannya maka sah namun berdosa.

📝Contoh :  

1. Sholat itu harus menutup(syarat sah) aurat tapi jika sholat dengan baju yang ada gambar orangnya dan larangan ini berhubungan dengan syarat sah maka sholatnya batal. 

2. Sholat menutup aurat itu syarat sah tapi jika memakai baju sutra maka sholatnya tidak sah. Akan tetapi jika pecinya itu sutra sholatnya sah karena peci buka  syarat sah tapi itu berdosa. 

⚠Semua ibadah yang dilarang maka batil tidak sah.

3.  Puasa di hari raya, puasa tidak sah. 

4. Jual beli ketika sholat Jum’at maka jual belinya tidak sah. Kecuali yang jual beli perempuan 

5. Sholat di masjid yang ada kuburnya, ada selisih pendapat ulama. Imam syafii sah tapi berdosa. Tapi imam ahmad,  tidak sah karena dalilnya tidak boleh sholat dikuburan. 

6. jual beli riba

7.  sholat di saat haidl

8.  wasiat untuk ahli warits

dan sebagainya. 
⚠Demikian pula bila larangan mengenai syaratnya seperti memakai pakaian sutra bagi laki laki ketika sholat, jual beli yang mengandung ghoror (ketidak jelasan) karena syarat jual beli adalah harus jelas. 

maka ini pun batil tidak sah.
📌Tapi bila tidak mengenai dzat ibadah dan tidak juga syaratnya seperti sholat dengan menggunakan peci hasil curian, haji dengan uang hasil korupsi, maka ibadahnya sah namun berdosa.
🌷Kaidah kesembilan:

Pada asalnya segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia adalah halal dan suci. Sedangkan ibadah pada asalnya terlarang.

📖 Q.S : Dalil kaidah ini adalah firman Allah Ta’ala
هو الذي خلق لكم ما في الأرض جميعا

Dialah yang telah menciptakan untukmu apa yang ada di bumi ini semuanya. (AlBaqarah:29).

📌Ayat ini menunjukkan bahwa Allah menciptakan apa yang ada di bumi ini semuanya sebagai kenikmatan untuk kita sebagai sesuatu yang halal. Maka tidak boleh mengharamkannya kecuali bila ada dalil.

📖 HR : Adapun dalil ibadah adalah hadits:

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه
 فهو رد

Barang siapa yang mengada ada dalam perkara kami ini apa apa yang bukan darinya, maka ia tertolak. (HR Muslim).

📌Maka tidak boleh kita beribadah kecuali setelah ada dalil yang memerintahkannya. Juga dikarenakan ibadah adalah jenis dari pembebanan, sedangkan pada asalnya manusia tidak diberikan beban.

📌Ini adalah bentuk kemudahan syariat dan kesempurnaan islam. Sehingga kita tidak perlu melelahkan diri untuk membuat sebuah ibadah, karena kewajiban kita hanya ittiba saja.

⚠Maka dalam masalah dunia, kita boleh berkreasi dan membuat tekhnologi yang bermanfaat untuk manusia, meskipun tidak ada di zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam. karena masalah dunia pada asalnya halal selama tidak ada dalil yang melarang.

📝Adanya mobil, pesawat, kapal, handphone, speaker dan sebagainya adalah masalah duniawi yang dihalalkan dan bukan bid’ah sama sekali.

📖HR : Yang halal sudah jelas dan yang haram sudah jelas diantara keduanya adalah syubhat 

📌Maka, lebih baik dijauhi karena lebih selamat. 
🌷Kaidah kesepuluh:

Perintah dalam urusan ibadah pada asalnya wajib dan larangan dalam ibadah hukum asalnya haram. Sedangkan dalam masalah adab, perintah hukum asalnya sunnah dan larangan hukumnya makruh.
📝Adab itu biasanya berhubungan dengan orang lain dan ibadah itu berhubungan dengan hak Allah 
👉Perintah dan larangan yang ada dalam al quran dan hadits tidak lepas dari dua masalah:
▪Pertama: Masalah ibadah.

📝Contohnya perintah mengusap kepala dalam wudlu, perintah meluruskan shaff dalam sholat, perintah menggunakan sutrah.

larangan mencukur janggut, larangan menyerupai wanita dsb.

📌Maka dalam masalah ini, perintah pada asalnya wajib dan larangan pada asalnya haram. Tidak boleh dipalingkan kepada sunnah atau makruh kecuali dengan dalil. 
▪Kedua: Masalah adab.

📝Contohnya perintah memulai yang kanan dalam berpakaian, memakai sendal dan sebagainya.

Larangan memegang kemaluan dengan tangan kanan ketika kencing. Minum dengan berdiri itu hukumnya makruh karena pernah dilakukan Rasulullah ketik dibutuhkan dan sesuatu yang boleh dilakukan jika dibutuhkan maka makruh. 

📌Maka perintah dalam masalah adab pada asalnya sunnah. Dan larangan pada asalnya makruh.

Tidak boleh dipalingkan kepada wajib atau haram kecuali dengan dalil.

📝Contoh yang haram karena ada dalil adalah larangan makan dan minum dengan tangan kiri. Hukumnya haram karena menyerupai setan.
🌷Kaidah kesebelas:

Perintah Allah dan RasulNya hendaknya dilaksanakan sesegera mungkin, tidak boleh ditunda-tunda.

📖HR : Dalilnya adalah hadits kisah perdamaian hudaibiyah. Nabi shallallahu alaihi wasallam marah kepada para shahabat karena mereka menunda nunda perintah beliau untuk tahallul dan menyembelih hewan kurban.

📖HR : Rasulullah memanggil said ketika sholat sunnah tapi said tetap meneruskan sholat kemudian ditegur dengan ayata

📖Q.S : Hai orang-orang beriman sahutlah panggilan Allah dan rasulNya. 

⚠Menyatu panggilan Rasulullah itu wajib sementara sholatnya sunnah.  Sementara yang wajib harus didahulukan dengan yang sunnah. 

📌Secara kebiasaanpun, apabila kita diperintah oleh atasan lalu kita laksanakan dengan segera, maka kita dianggap menghormati atasan.

📌Bila orang tua menyuruh anaknya pergi membeli sesuatu, lalu anak tersebut menunda nunda perintahnya. Kemudian orang tuanya marah, maka hal seperti ini dibenarkan.

⚠Maka tidak dibenarkan menunda nunda haji bagi orang yang mampu tanpa udzur syar’iy dan sebagainya.
🌷Kaidah kedua belas:

Apabila disebutkan keutamaan suatu amal dalam sebuah dalil tanpa ada perintah, maka hukumnya sunnah bukan wajib.

📖HR : Contohnya hadits:

السواك مطهرة للفم مرضاة للرب

Bersiwak itu mensucikan mulut dan mendatangkan keridlaan Rabb. (HR Ahmad) 

📖HR : Contohnya juga hadits:

من نفس عن مؤمن كربة من كرب الدنيا نفس الله عنه كربة من كرب يوم القيامة

Barang siapa yang menghilangkan salah satu kesusahan mukmin, maka Allah akan hilangkan salah satu kesusahannya di hari kiamat.

(HR Muslim).

📖HR : Contohnya juga hadits

من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال فكأنما صام الدهر

Barang siapa yang berpuasa Ramadlan lalu diikuti enam hari syawal, maka seakan akan berpuasa setahun penuh.

(HR Muslim).

📌Diantara contohnya juga puasa tiga hari setiap bulan, puasa senin kamis dan lain sebagainya.
🌷Kaidah ketiga belas:

Perbuatan Nabi yang tidak ada perintah dari beliau, maka hukumnya tidak wajib. 

👉Perbuatan Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak semuanya sama hukumnya. Namun terbagi menjadi 6 macam:

▪1. Perbuatan Nabi yang bersifat tabiat manusiawi.

📝Seperti selera makan, gaya berjalan dsb.

📌Maka kita tidak diwajibkan untuk mengikutinya. Kecuali bila disana ada nilai ibadahnya seperti tidur di atas wudlu, tidur di atas rusuk yang kanan dll, maka ini disunnahkan.

▪2. Perbuatan Nabi yang berasal adat istiadat.

📝Contohnya bentuk pakaian dsb. 📌Maka yang sunnah adalah mengikuti adat istiadat setempat selama tidak menyalahi syariat. 

▪3. Perbuatan Nabi dalam rangka mempraktekan perintah Allah.

📌Hukumnya sesuai perintah tersebut. jika perintah tersebut wajib, maka perbuatan Nabi itu pun wajib. Jika sunnah maka sunnah. 

📝Contoh Nabi mengusap seluruh kepala ketika berwudlu, mempraktekan perintah Allah untuk mengusap kepala. 

▪4. Perintah Nabi yang bersifat ta’abbudiy. Maka yang seperti ini hukumnya sunnah saja. 

📝Seperti Nabi berpuasa tiga hari setiap bulan, Nabi tidak pernah meninggalkan sholat witir, Nabi sholat bada ashar dua rokaat dan lain sebagainya.

▪5. Perbuatan Nabi yang khusus untuk beliau tanpa umatnya. Maka ini tidak boleh dilakukan. 

📝Contohnya : menikah lebih dari empat istri dan sebagainya. 

▪6. Perbuatan Nabi yang masih diragukan apakah termasuk ibadah atau adat. 

📝Seperti Nabi memanjangkan rambut sebahu.

📌Para ulama berbeda pendapat apakah itu sunnah atau tidak. jumhur berpendapat tidak sunnah.
🌷Kaidah keempat belas:

Apabila bertemu dua mashlahat,  didahulukan mashlahat yang lebih besar.

📝Mashlahat adalah kebaikan bagi manusia dalam agama, dunia dan akherat. 

📌Dalam memandang mashlahat, kita wajib berpegang kepada syariat. Bukan hawa nafsu dan syahwat.

👉Terkadang kita dihadapkan kepada dua mashlahat yang harus dipilih salah satunya. Maka kita dahulukan yang lebih besar mashlahatnya.

▪1. Apabila bertabrakan antara yang wajib dan sunnah, maka kita dahulukan yang wajib karena yang wajib lebih dicintai oleh Allah Ta’ala.

▪2. Apabila bertabrakan antara ibadah yang bersifat mutlak (tidak terikat) dengan ibadah muqoyyad (terikat), maka kita dahulukan ibadah muqoyyad.

📝Contohnya : ketika membaca alquran terdengar adzan, maka kita dahulukan mendengar adzan. Dzikir pagi dan baca Qur’an dahulukan dzikir pagi karena terikat. 

▪3. Apabila bertabrakan antara fardlu ain dan fardlu kifayah, kita dahulukan fardlu ain.

▪4. Apabila bertabrakan antara dua amal, kita dahulukan yang manfaatnya menular.

Seperti mendahulukan menuntut ilmu dari sholat tahajjud.

▪5. Apabila ayah dan ibu memanggil, maka kita dahulukan ibu karena lebih besar haknya.

dan lain sebagainya. 
🌷Kaidah kelima belas.

Apabila bertemu dua mudlarat, maka diambil yang paling ringan mudlaratnya.

📝Dalam Al Quran, Allah menyebutkan kisah Khidir yang membolongi kapal kaum fuqoro,  agar tidak diambil oleh raja yang jahat. Membolongi kapal adalah mudlarat, namun khidir lakukan agar terhindar dari mudlarat yang lebih besar.

📝Dalam hadits disebutkan bahwa ada orang badui masuk ke masjid dan kencing di dalam masjid. maka para shahabat mengingkarinya. Nabi melarang para shahabat dan membiarkan arab badui itu kencing.

Karena bila Nabi membiarkan para shahabat mengingkarinya, tentu akan menimbulkan mudlarat yang lebih besar.

📌Bila bertemu mudlarat khusu dengan mudlarat umum, maka kita korbankan mudlarat khusus untuk menghindari mudlarat umum.

📝Seperti bila pedagang kaki lima menganggu lalu lalang jalan. Maka pemerintah boleh menertibkan pedagang kaki lima untuk menghindari mudlarat yang lebih umum.

📌Perselisihan yang timbul karena membantah pemikiran yang sesat, lebih ringan dari tersebarnya kesesatan.

📌Boleh melaporkan tindakan kriminal kepada yang berwajib, karena mudlarat kriminal tersebut lebih besar.

📌Mudharat yang sifatnya kecil lebih didahulukan daripada yang sifatnya besar
🌷Kaidah keenam belas:

Apabila bertemu mashlahat dan mudlarat, bila mashlahatnya lebih besar maka disyariatkan. Bila mudlaratnya lebih maka dilarang.

📖Q.S : Allah berfirman tentang arak:

يسألونك عن الخمر والميسر قل فيهما إثم كبير ومنافع للناس وإثمهما أكبر من نفعهما

Mereka bertanya kepadamu tentang arak dan judi. katakan, pada keduanya terdapat dosa besar dan manfaat manfaat untuk manusia. Namun dosanya lebih besar dari manfaatnya.

(Al Baqarah: 219)

📌Dalam ayat tersebut Allah menyebutkan bahwa dalam arak bertemu antara manfaat dan mudlarat, dan mudlaratnya lebih besar maka Allah

mengharamkannya.

📝Allah ta’ala menjadikan nabi yusuf alaihissalam dipenjara dalam tanah, walaupun itu ada jenis mudlarat untuk beliau. Namun manfaatnya jauh lebih besar dengan diselamatkan dari fitnah para wanita.

📖HR : Raafi’ bin Khadiij radliyallahu anhu berkata: “Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang kami dari sesuatu yang tampak bermanfaat bagi kami. Namun menaati Allah dan RasulNya lebih bermanfaat untuk kami.

(HR Muslim).

📌Dalam menimbang mashlahat dan mudlarat mana yang lebih besar membutuhkan kefaqihan dan pemahaman yang dalam.

📌Seringkali terjadi perbedaan ijtihad para ulama. Maka kewajiban kita untuk tidak tergesa gesa dalam menimbang mashlahat dan mudlarat.

📝Setiap makanan pasti mengandung racun tapi manfaatnya lebih besar dari mudharatnya. 

📖HR : Diantara tanda kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan apa yang tidak manfaat baginya. 

📓Ibn thaimiyah pernah melewati orang thar thar yang sedang mabuk dan muridnya berkata untuk mengingkarinya tapi dilarang Ibn thaimiyah karena jika mereka tidak mabuk akan melukai kaum muslimin. 
🌷Kaidah ketujuh belas:

Apabila bertemu pembolehan dengan pelarangan, maka didahulukan pelarangan.

📌Dalil kaidah ini adalah ayat tentang arak yang menyebutkan bahwa pada arak terdapat dosa dan manfaat, maka Allah haramkan.

📝Apabila bercampur ada daging yang halal dan daging yang haram, dan kita tidak mengetahui mana yang halal, maka wajib ditinggalkan semua.

📝Puasa hari sabtu terdapat dalil yang mengharamkan dan dalil yang membolehkan, maka kita dahulukan dalil yang mengharamkan.
🌷Kaidah kedelapan belas

Hukum itu mengikuti illatnya. Bila illat ada maka hukumpun ada, dan bila tidak ada maka hukum tidak ada.

📌Hukum dalam islam tidak lepas dari lima: wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram.

📌Setiap hukum islam selalu mengandung illat(alasan pelarangan) 

📝Illat adalah sifat yang tampak dan tetap. 

📌Seperti illat arak adalah memabukkan. Jika jadi cuka dengan sendiri maka  boleh karena Illat memabukkan sudah hilang. Tapi narkoba dilarang karena masuk illatnya memabukkan 

📌Jika dijaman Rasulullah memakai kain peci diikat itu ciri khas kaum yahudi maka di zaman imam ahmad boleh karena sudah tidak menjadi ciri kaum yahudi 

👉Illat itu 4 syaratnya

1. Berbentuk sifat

2. Tampak 

3. Tetap

4. Tidak dialihkan oleh syariat 

👉Hukum dilihat dari illatnya ada dua macam:

1. Hukum diketahui illatnya.

2. Hukum yang tidak diketahui illatnya.
👉Hukum yang diketahui illatnya ada dua macam:

▪1. Illat yang disebutkan oleh Nash. contohnya hadits ttg kucing:

إنها ليست بنجس إنما هي من الطوافين عليكم

Sesungguhnya kucing itu tidak najis, ia selalu berkeliling di antara kalian. (HR Abu Dawud).

📌Dalam hadits tersebut Nabi menyebutkan alasan ketidak najisan kucing yaitu suka berkeliling sehingga sulit dihindari. 

▪2. Illat yang diketahui dengan cara istinbath. 

📌Illat jenis ini ada yang menjadi ijma ulama seperti illat arakdalah memabukkan. Dan ada yang masih diperselisihkan, seperti illat emas dan perak ada yg mengatakan karena ditimbang. Ada yang mengatakan illatnya adalah tsaman (harga) dan inilah yang kuat.  

📌Memahami illat suatu hukum sangat penting dan memudahkan kita untuk mengqiyaskan dengan perkara lain yang sama illatnya.

Seperti diqiyaskan kepada kucing semua binatang yang sulit untuk kita hindari.

📝Contoh lainnya adalah uang diqiyaskan kepada emas karena illatnya sama sama harga. Sehingga dalam zakat sama dengan emas dan juga terjadi padanya riba. 

📌Apabila illatnya hilang, maka hilang pula hukumnya. Contohnya bila arak berubah menjadi cuka dengan sendirinya, dan tidak lagi memabukkan menjadi halal hukumnya karena illat memabukkan itu telah hilang. 

dan sebagainya.
🌷Kaidah kesembilan belas:

Semua yang mendahului sebab suatu hukum tidak sah. Dan sah apabila mendahului syaratnya.

📝Setiap hukum memiliki sebab dan syarat. 

📌Contohnya zakat, sebab wajibnya adalah sampai nishob dan syarat wajibnya adalah telah berlalu haul (setahun).

📝Apabila ada orang yang berzakat sebelum sampai nishobnya, maka zakatnya tidak sah. Karena mendahului sebab. Adapun bila ia telah sampai nishob dan hendak mengeluarkan zakat sebelum berlalu haul maka boleh dan sah.

📝Contoh lain: syarat membayar fidyah ketika haji dan umroh adalah melakukan pelanggaran yang mewajibkan fidyah, seperti mencukur kepala. Dan sebab mencukur kepala karena adanya gangguan di kepala seperti banyak kutu misalnya.

📌Gangguan di kepala = sebab 

Mencukur rambut = syarat membayar fidyah.

📝Apabila kita membayar fidyah sebelum adanya gangguan maka tidak sah. Namun apabila telah ada gangguan lalu kita membayar fidyah sebelum mencukur kepala maka sah.

📌Bila kita bersumpah untuk tidak memasuki suatu kota, kemudian setelah itu ia memandang adanya mashlahat besar untuk memasuki kota tersebut. Lalu ia membatalkan sumpah dan membayar kafarat sumpah. 

📝Berarti:

Sumpah adalah sebab adanya pembatalan.

Pembatalan adalah syarat membayar kafarat.

📌Apabila ada orang membayar kafarat sebelum adanya sumpah maka tidak sah.

📌Apabila ia telah bersumpah lalu ia berniat membatalkan sumpahnya. Ia membayar kafarat dahulu sebelum pembatalan maka sah.

Dan lain sebagainya.
🌷Kaidah kedua puluh:

Seluruh hukum tidak sempurna kecuali apabila terpenuhi syarat syaratnya dan hilang penghalang penghalangnya. 

📌Zakat itu syaratnya nishob dan haul maka jika hilang salah satunya maka tidak wajib

📖Q.S Allah Ta’ala berfirman:

فمن كان يرجوا لقاء ربه فليعمل عملا صالحا ولا يشرك بعبادة ربه أحدا

Barang siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Rabbnya, hendaklah ia beramal shalih dan tidak mempersekutukan ibadah Rabbnya dengan sesuatupun. (AlKahfi:110)

📝Dalam ayat  ini Allah menyebutkan bahwa syarat orang yang ingin bertemu dengan Allah pada hari kiamat dan melihat wajahNya adalah beramal shalih. 

Dan hilang penghalangnya yaitu kesyirikan.

📝Demikian pula semua ibadah seperti sholat, zakat, puasa, haji dan sebagainya tidak sempurna sampai terpenuhi syarat dan rukunnya dan tidak melakukan pembatal pebatal yang menghilangkan keabsahannya.

📌Dalam memvonis individu misalnya, tidak boleh kita vonis ia kafir atau fasiq misalnya kecuali apabila terpenuhi syarat syaratnya dan tidak ada penghalangnya.

📌Apabila syarat syaratnya terpenuhi tapi masih ada penghalang keabsahannya, maka tidak sah.Seperti orang yang mengucapkan laa ilaaha illalllah telah terpenuhi syarat masuk surga. Namun bila ia melakukan pembatal pembatal laa ilaaha illallah, syarat tersebut tidak bermanfaat di sisi Allah.
⚠⚠Pembahasan Kajian Hanya Sampai Kaidah 20⚠⚠
🌷Kaidah kedua puluh satu.
Dugaan kuat itu dapat digunakan dalam masalah ibadah.
Dugaan ada yang lemah dan ada yang kuat. Dugaan lemah tidak diterima dalam masalah apapun, demikian pula semua perkara yang meragukan.
Adapun dugaan kuat, maka boleh menggunakannya dalam masalah ibadah.

Dalilnya, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إذا شك أحدكم في صلاته فايتحر الصواب ثم ليبن عليه

Apabila salah seorang dari kamu merasa ragu dalam sholatnya, hendaklah ia mencari yang benar, lalu membangun sholat di atasnya.

(HR Bukhari dan Muslim).
Dalam al qur’an, Allah menyuruh membawa saksi dalam masalah perzinahan, pencurian dan ssbagainya. Dan itu bersifat dugaan kuat. Karena saksi ada kemungkinan berdusta. Namun kuat dugaan jujurnya karena melihat ketaqwaannya.
Apabila seseorang berbuka puasa dengan kuat waktu berbuka telah masuk, lalu nyata kepadanya bahwa waktunya buka belum masuk, maka puasanya sah dan ia menahan diri kembali sampai benar benar masuk waktu.
Bila ada orang sholat shubuh dengan dugaan kuatnya bhawa waktu shubuh telah masuk, maka sah sholatnya.
Bila ada orang memberi zakat kepada orang yang ia duga kuat berhak mendapatkannya. Lalu nyata setelah itu bahwa ia tidak berhak, maka sah zakatnya.
Dan sebagainya..
🌷Kaidah kedua puluh dua:
Apabila ternyata dugaan kuat itu salah, maka hendaknya ia mengulangi agar terlepas tanggungan.
Kaidah ini masih melanjutkan kaidah sebelumnya. Namun ini berhubungan dengan meninggalkan kewajiban. 
Apabila ada orang yang sholat 4 rokaat dengan dugaan kuatnya, setelah itu nyata salahnya dan kurang satu rokaat, maka hendaklah ia menambah satu rokaat.
Bila ia sholat dengan dugaan kuat belum batal wudlunya, lalu setelah sholat ia ingat bahwa wudlunya telah batal, maka ia wajib mengulanginya.
Namun apabila tidak mungkin diulangi seperti salah orang ketika membayar zakat, maka itu sudah mencukupi.
🌷Kaidah kedua puluh tiga:
Yang dianggap dalam mu’amalah adalah sesuai yang terjadi, bukan sesuai dugaannya.
Telah disebutkan bahwa dugaan kuat dapat digunakan dalam masalah ibadah. Adapun dalam mu’amalah yang dianggap adalah sesuai yang terjadi.
Apabila si A menjual barang milik B tanpa izinnya. tetapi rupanya B sudah mewakilkan penjualan tanpa sepengetahuan A, maka jual belinya sah.

Walaupun haram bagi A menjual milik B tanpa izinnya.
Bila C membayarkan hutang B kepada A, maka dianggap lunas walaupun B tak mengetahuinya.
Bila A menjual milik B tanpa izinnya, ternyata B telah meninggal sebelum terjadinya akad. Dan ternyata A pewaris B maka akadnya sah..

dan sebagainya…
🌷Kaidah kedua puluh empat:
Keraguan setelah melakukan ibadah itu tidak dianggap.
Keraguan biasanya terjadi di dua tempat:

1. Ketika ibadah sedang berlangsung.

2. Setelah selesai melakukan ibadah.
Adapun ketika ibadah berlangsung, maka ini pun ada dua macam:

1. Keraguan karena lupa.

2. keraguan karena was was.
Bila karena lupa, maka ambillah yang yakin. Contohnya bila ia ragu apakah dua atau tiga rakaat, maka ambil dua dan tambah lagi satu rokaat dan sujud sahwi sebelum salam.
Bila karena was was, maka tidak dianggap. Seperti ragu apakah keluar dari duburnya sesuatu atau tidak. Maka ia tidak boleh membatalkan sholatnya hanya karena was was tersebut. 
Sedangkan bila keraguan itu setelah melakukan peebu
atan, maka inipun tidak dianggap.
Contohnya bila telah selesai wudlu, ia ragu apakah sudah mencuci tangan atau belum. 

Setelah selesai sholat ia ragu, apakah sudah dua rokaat atau tiga rokaat. 

Setelah selesai puasa, ia ragu apakah ia berpuasa qodlo atau bukan. Dan sebagainya.
🌷Kaidah kedua puluh lima:
Sesuatu yang terlintas di hati dimaafkan selama tidak diucapkan atau diperbuat.
Kaidah ini berdasarkan hadits:

إن الله تجاوز لي عن أمتي ما حدثت به أنفسها ما لم تعمل أو تتكلم

Sesungguhnya Allah memaafkan untuk umatku apa yang ia bicarakan di hatinya selama tidak dilakukan atau diucapkan. HR Bukhari dan Muslim.
Apabila terlintas difikiran seseorang untuk berbuat maksiat maka tidak berpengaruh apapun.

Atau terlintas dipikirannya untuk berbuat kebaikan. 
Lalu bagaimana dengan firman Allah:

ومن يرد فيه بإلحاد بظلم نذقه من عذاب أليم

Barang siapa yang menginginkan padanya perbuatan buruk berupa kezaliman, maka Kami akan rasakan ia dengan adzab yang pedih. (Al Hajj: 25).
Dijawab: Bahwa lintasan hati berbeda dengan niat yang kuat. karena yang dimaksud ayat tersebut adalah azimah (niat yang kuat), sehingga tidak masuk dalam kaidah ini.

wallahu a’lam.
🌷Kaidah kedua puluh enam:
Perintah apabila yang dimaksud darinya pelakunya, maka perintah itu hukumnya fardlu ain.

Dan apabila yang dimaksud perbuatannya, maka perintah itu hukumnya fardlu kifayah.
Ini adalah kaidah untuk membedakan antara perintah yang bersifat fardlu ain dan perintah yang bersifat fardlu kifayah.
Bila yang dimaksud adalah pelakunya maka fardlu ain.

contohnya perintah untuk sholat, zakat, puasa, haji, dan sebagainya.
Bila yang dimaksud perbuatannya maka fardlu kifayah.

contohnya adalah adzan, bila ada satu orang adzan, maka itu sudah terhasilkan. Maka itu mencukupi.

contohnya lagi menyelenggarakan pengurusan jenazah. tidak wajib setiap orang mengurus jenazah.
🌷Kaidah kedua puluh tujuh:
Ibadah yang mempunyai beberapa bentuk, hendaknya kita lakukan terkadang ini dan terkadang itu.
Ada beberapa ibadahvyang mempunyai beberapa bentuk atau macam yang berasal dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. 

Contohnya doa istiftah, bacaan ruku dan sujud, bacaan sholawat dan ssbagainya.
Maka agar terpelihara semuanya, kita tidak melanggengkan satu bacaan, tapi kita baca terkadang ini dan terkdang itu. 

Namun tidak disyariatkan membaca seluruhnya dalam satu sholat.

Kecuali bila ada dalil yang menunjukkan boleh membaca seluruhnya dalam satu waktu seperti doa pagi dan petang.

wallahu a’lam.
🌷Kaidah kedua puluh delapan:
Pendapat seorang shahabat apabila tidak diselisihi oleh shahabat lainnya adalah hujjah atas pendapat yang kuat.
Shahabat yang dimaksud di sini adalah para shahabat ahli ijtihad seperti kholifafah yang empat, ibnu Mas’ud, ibnu Abbas,  ibnu Umar dan lain lain.
Apabila pendapat mereka tidak diselisihi oleh shahabat lain terlebih bila pendapat tersebut masyhur di kalangan mereka, maka pendapat tersebuf adalah hujjah.
Karena mereka adalah generasibyang paling dalam ilmunya, paling bening hatinya dan paling jauh dari hawa nafsu.
Al Qur’an turun dengan bahasa mereka, dan mereka melihat langsung praktek dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dan mendengar langsung penjelasan dari beliau.
Apabila pendapat shahabat itu diselisihi oleh shahabat lain yang juga ahli ijtihad, maka kita lihat mana yang paling dekat kepada Al Quran dan hadits. 

Dan memberi udzur kepada yang salah.
🌷Kaidah kedua puluh sembilan:
Hujjah taklif itu ada empat: Al Quran, hadits yang shahih, ijma dan qiyas.
Wajib diyakini bahwa al quran adalah kalam Allah bukan makhluk, ia terjaga sampai hari kiamat, siapa yang meyakini bahwa alquran telah berubah, atau mengingkari salah satu ayatnya maka ia kafir.
Wajib diyakini bahwa alquran itu mutawatir, namun tentunya makna mutawatir dalam istilah ilmu alquran berbeda dengan mutawatir dalam istilah ilmu hadits.
Ayat al quran ada yang muhkam ada juga yang mutasyabih. Tata cara yang benar adalah menafsirkan ayat mutasyabih dengan ayat yang muhkam. Adapun mencari ayat ayat mutasyabih untuk manakwilnya sesuai hawa nafsu maka ini bukanlah jalan yang benar.
D
alam memahami alquran membutuhkan penguasaan terhadap ilmu ilmu alatnya seperti bahasa arab, sebab nuzul, nasikh mansukh dsb.
ibnu Katsir menyebutkan bahwa ada empat cara menafsir mkan alquran:

1. Tafsirkan alquran dengan alquran.

2. Tafsirkan alquran dengan hadits.

3. Tafsirkan alquran dengan pemahaman shahabat.

4. Dengan pemahaman tabiin.
In syaa Allah kita akan menyendirikan pembahasan kaidah kaidah memahami al quran setelah membahas kaidah kaidah fiqih.
🌷Lanjutan kaidah ke 29:
Hujjah taklif yangbkedua adalah hadits yang shahih.

disebut hadits yang shahih apabila memenuhi lima syarat:

1. Bersambung sanadnya sampai kepada Rasulullah shallalahu alaihi wasallam.

2. perawinya adil, yaitu muslim, baligh, berakal, tidak fasiq, dan selamat dari muruah yang buruk. 

3. dlabith, yaitu menguasai hadits yang ia riwayatkan baik dengan hafalan atau dengan tulisan yang selamat dari kesalahan.

4. Selamat dari illat yang merusak keabsahannya.

5. tidak syadz, yaitu periwayatan perawi yang diterima menyelisihi periwayatan perawi lain yang lebih tsiqoh.
Apabila salah satu dari lima syarat ini tidak terpenuhi maka tidak disebut shahih.
Adapun hadits lemah, maka ia bukan hujjah taklif. Jalaluddin Ad Dawaani berkata:

اتفقوا على أن الحديث الضعيف لا يثبت به الأحكام الخمسة الشرعية ومنها الاستحباب

Para ulama bersepakat bahwa hadits yang lemah tidak bisa menetapkan hukum syariat yang lima, termasuk di dalamnya al istihbab.

(Muntahal amaani hal. 186)
Adapun dalam fadlilah amal, memang terjadi perselisihan. sebagian ulama mengatakan boleh diamalkan.
Namun Syaikh Ali Al Qori berkata:

إن الحديث الضعيف يعمل به في الفضائل وإن لم يعتضد إجماعا كما قاله النووي، محله الفضائل الثابتة من كتاب أو سنة

Sesungguhnya hadits lemah itu dapat diamalkan dalam fadilah amal walaupun tidak ada jalan yang menguatkannya berdasarkan ijma sebagaimana yang dikatakan oleh imam An Nawawi. Namun tempatnya pada amal yang shahih dari alquran atau sunnah.

(Al Mirqot 2/381)
Maksudnya apabila asal amal tersebut ditetapkan oleh hadits yang shahih, namun ada hadits yang lemah yang menyebutkan tentang keutamaan amal tersebut, maka boleh diamalkan.

Contoh siwak, ia sunnah berdasarkan hadits yang shahih.

bila ada hadits lemah yang menyebutkan keutamaan siwak,  maka boleh diamalkan.
🌷Lanjutan kaidah ke 29:
Hujjah taklif yang ketiga yaitu ijma’.
Ijma adalah kesepakatan ahli ijtihad umat islam pada suatu hukum syariat setelah Nabi shallallahu alaihi wasallam wafat.
Ahli ijtihad adalah yang telah terpenuhi syarat syarat ijtihad berupa menguasai al quran dan hadits dan ilmu ilmu alat untuk berijtihad.

Adapun kesepakatan bukan ahli ijtihad tidak disebut ijma. 
Dalil hujjahnya ijma:

1. Allah Ta’ala berfirman:

فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول

Bila kalian berselisih dalam sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul..

(An Nisaa:59).
Ayat ini menunjukkan bahwa merujuk al quran dan sunnah itu di saat ada perselisihan. Adapun bila tidak berselisih maka itu sudah cukup.
2. Allah berfirman:

ومن يشاقق الرسول من بعد ما تبين له الهدى ويتبع غير سبيل المؤمنين نوله ما تولى ونصليه جهنم وساءت مصيرا

Siapa yang menyelisihi rosul setelah jelas kepadanya petunjuk dan mengikuti selain jalan kaum mukminin maka kami biarkan ia leluasa dalam kesesatannya dan Kami akan bakar ia dalam jahannam. dan itulah seburuk buruk tempat kembali. (An Nisaa: 115)

Mengikuti selain jalan kaum mukminin artinya selain ijma mereka. Sebagaimana dikatakan oleh imam Asy Syafii
3. Sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

لن تجتمع أمتي على ضلالة

Umatku tidak mungkin bersepakat di atas kesesatan.

(HR Abu Dawud) 
Disyaratkan pada ijma adalah kesepakatan seluruh ahli ijtihad di dunia, bukan hanya ahli ijtihad negara tertentu tanpa negara lainnya. Dan yang menyatakan ijma harus seorang ulama yang benar benar mengetahui pendapat pendapat manusia.
Ijma ada dua macam:

1. Ijma qoth’iy: Yaitu yang dipastikan adanya ijma seperti wajibnya sholat, zakat, puasa, haji, haramnya arak, judi, zina, riba dan sebagainya.

2. ijma dzonniy yaitu ijma yang diketahui setelah melakukan penelitian.

Para ulama berbeda pendapat akan kemun
gkinan terjadinya ijma seperti ini. yang kuat adalah pendapat syaikhul islam ibnu Taimiyah:

والإجماع الذي ينضبط ما كان عليه السلف الصالح ، إذ بعدهم كثر الاختلاف وانتشرت الأمة ” . أهـ . 

Ijma yang mungkin adalah ijma di zaman salafushalih karena setelah mereka umat islam telah sangat tersebar dan banyak perselisihan.
🌷Lanjutan kaidah ke 29:
Hujjah taklif yang keempat yaitu Qiyas.
Qiyas adakah menyamakan hukum cabang dengan hukum asal karena adanya persamaan illat.
Rukunnya ada empat:

1. Adanya pokok yang ditunjukkan oleh dalil.

2. Adanya cabang yang akan diqiyaskan kepada pokok.

3. Adanya persamaan illat. Illat adalah sifat yang tampak dan tetap dan tidak dibatalkan oleh syariat.

4. Adanya hukum baik wajib, sunnah, mubah, makruh atau haram.
Contohnya adalah mengqiyaskan beras dengan gandum karena adanya persamaan illat yaitu sama sama makanan pokok.
Beberapa perkara yang perlu diperhatikan dalam qiyas:

1. Qiyas digunakan disaat tidak ada dalil. Sebagaimana dikatakan oleh imam Asy Syafii:

Qiyas itu digunakan ketika darurat saja.

2. Qiyas bila bertabrakan dengan dalil maka qiyas tersebut tertolak. 

3. Qiyas hanya berlaku pada ibadah yang diketahui padanya illat. Adapun ibadah yang bersifat mahdloh dan tidak diketahui illatnya maka tidak mungkin diqiyaskan. 

4. Tidak boleh mengqiyaskan kepada cabang.

Dan pembahasan qiyas secara terperinci dalam kitab ushul fiqih.
🌷Kaidah ketiga puluh satu:
Wajib menutup pintu hilah.
Hilah adalah usaha untuk menggugurkan kewajiban atau menghalalkan yang haram dengan cara tersembunyi yang tampaknya boleh padahal tidak. Ini adalah perbuatan kejahatan dalam agama. Karena hakekatnya mempermainkan agama sesuai hawa nafsu.
Yang pertama kali menggunakan hilah adalah kaum yahudi. Ketika Allah mengharamkan untuk mereka berburu di hari sabtu, mereka berhilah dengan cara memasang jala di jumat sore dan mengambilnya di minggu pagi. 

Ketika Allah mengharamkan untuk mereka gajih sapi, mereka jadikan minyak lalu menjualnya dan memakan harganya.
Contoh hilah misalnya: Orang yang malas pergi ke masjid. Di waktu waktu sholat ia sengaja memakan bawang agar ia punya alasan untuk tidak pergi ke masjid. Maka yang seperti ini diharamkan.
Contoh lain: Seseorang telah memiliki harta yang sampai nishob dan haul. Lalu ia ingin lari dari zakat dengan cara menghibahkannya kepada anaknya. Kemudian suatu ketika iamengambilnya kembali.
🌷Kaidah ke 32:

Haram melanjutkan ibadah atau muamalah yang rusak, kecuali haji dan umroh tetap wajib dilanjutkan.
Apabila suatu ibadah atau muamalah rusak karena tidak memenuhi syaratnya atau meninggalkan rukunnya maka tidak boleh kita melanjutkan ibadah atau muamalah tersebut.
contohnya bila kita sedang berwudlu, lalu nyata kepada kita airnya najis, maka tidak boleh kita lanjutkan dan wajib dibersihkan anggota yang terkena najis tersebut.
Apabila kita sholat lalu buang angin, wajib menghentikan sholat dan berwudlu kembali.

Jual beli yang mengandung riba tidak boleh dilanjutkan kecuali bila tidak mungkin dihentikan seperti bila kita membeli rumah secara kredit namun dengan akad ribawi.
Bila seorang wanita sedang puasa lalu ia haidl, maka haram baginya meneruskan puasanya tersebut.
Dikecualikan dalam masalah ini adalah haji dan umroh. Maka wajib disempurnakan walaupun ia telah rusak, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وأتموا الحج والعمرة لله

Dan sempurnakanlah haji dan umroh untuk Allah. (Al Baqoroh: 196).
Apabila seseorang berjima disaat mabit di muzdalifah misalnya, maka hajinya rusak  tidak sah tapi ia wajib menyempurnakannya sampai selesai, dan ia wajib haji lagi di tahun mendatang.

Ini tidak ada bedanya antara haji wajib atau haji sunnah. Demikian pula umroh.
🌷Kaidah ke 33:
Boleh membatalkan ibadah yang sunnah kecuali haji dan umroh tidak boleh diputuskan.
Dalil kaidah ini adalah hadits Aisyah, ia berkata:

دخل علي النبي صلى الله عليه وسلم ذات يوم فقال : هل عندكم شيء ؟ فقلنا : لا ، قال : فإني إذن صائم ، ثم أتانا يوما آخر فقلنا : يا رسول الله أهدي لنا حيس ، فقال أرينيه فلقد أصبحت صائما ، فأكل

@oelpha_hasana 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s